Studium Generale “Teknologi Terkini dan Aplikasinya untuk Observasi Dinamika Perairan Pesisir”

Published by Teknik Kelautan on

Kekayaan negara Indonesia tidak hanya terpendam di darat, namun juga berserak di laut. Keragaman fauna ikan dan potensi pariwisata bahari di Indonesia jelas berlimpah. Kondisinya, hari ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Semuanya butuh teknologi dan mestinya anak Indonesia bisa membuatnya sendiri. Itulah bahasan dalam Studium Generale (kuliah umum) Program Studi Teknik Kelautan Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan ITERA. Kuliah umum tersebut berlangsung pada 29 September 2020, diselenggarakan secara daring. Hadir sebagai pemateri adalah Prof. Indra Jaya dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor University (IPB University) dan sebagai moderator adalah Muhammad Fatkhurrozi dari Teknik Kelautan. Kuliah umum tersebut berlangsung mulai jam 10.00 hingga jam 12.00 WIB, dihadiri tak kurang dari 240 peserta dengan berbagai latar belakang.

Kuliah diawali dengan pembahasan mengenai pengenalan dinamika perairan pesisir dan urgensi teknologi observasi. Pesisir merupakan wilayah daratan yang masih terpengaruh angin dari laut dan wilayah laut yang terpengaruh pasang surut serta terdapat dinamika seperti gelombang pecah dan sedimentasi. Observasi pada wilayah pesisir menjadi penting mengingat banyak sekali kegiatan manusia yang melibatkan pesisir. Fenomena di pesisir mesti diantisipasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia: seperti perubahan garis pantai yang dapat mengancam stabilitas rumah warga di pesisir, pendangkalan perairan yang dapat mengganggu lalu-lintas kapal, dan gelombang yang relatif tinggi yang dapat membayakan nelayan. Di satu sisi, data dan informasi tentang kondisi dan dinamika di perairan pesisir Indonesia relatif sangat minim.

Prof. Indra Jaya, yang memiliki latar belakang akustik bawah air, bersama tim telah mengembangkan berbagai teknologi untuk memahami sifat fisis pesisir serta memanfaatkannya. Sang profesor bercerita tentang pembangkit listrik tenaga gelombang di pantai. Pembangkit listrik memanfaatkan naik turun permukaan air laut yang menimbulkan tekanan udara yang dikurung dalam suatu kamar sehingga dapat memutar turbin. Pada gilirannya, turbin tersebut dapat dikonversikan ke energi listrik. Teknologi ini, meski belum mencapai keekonomian yang diharapkan, suatu saat nanti dapat digunakan untuk menerangi pulau-pulau kecil di Indonesia.

Selanjutnya Prof. Indra menjelaskan tentang buoy yang telah dia kembangkan. Buoy merupakan bola apung yang dipasang di tengah laut yang berguna mencatat berbagai macam fenomena di laut. Buoy hasil karyanya telah diaplikasikan di Kepualuan Seribu dalam rangka mencatat fenomena fisis di pesisir seperti pasang-surut, kecepatan angin, suhu, salinitas, dan lainnya. Yang spesial dari buoy karya Prof. Indra adalah kemampuan buoynya untuk saling relay secara wireless. Dengan cara ini, masing-masing buoy tidak perlu transmitter seperti radio atau GSM sehingga dapat diproduksi lebih murah.

Prof. Indra dan tim juga mengembangkan drone permukaan air yang dinamakan “N-ASV”. Drone tersebut mampu menjelajah perairan tanpa remote control, yang digunakan untuk menangkap citra bawah air, mencatat suhu, salinitas, dan data lainnya. Banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan dengan drone tersebut seperti survei hidrografi, pemetaan kondisi batuan dasar laut, pemetaan ikan, dan sebagainya.

Selain drone permukaan air, Prof. Indra dan tim juga mengembangkan drone bawah air. Seperti saudaranya, drone ini dapat menjelajah di dalam perairan tanpa menggunakan remote control. Dengan pemrograman terhadap mesin penggerak (thruster), drone tersebut dapat menempuh suatu lintasan (waypoint) dan dapat kembali ke titik awal dengan selamat. Penggunaan drone tersebut dapat diterapkan pada misalnya sistem peringatan dini tsunami, penentuan lokasi karamba jaring apung, navigasi kapal selam, dan sebagainya.

Di akhir sesi, Prof. Indra memberi materi penutup bahwa potensi laut Indonesia masih sangat masif karenanya diperlukan riset-riset yang lebih intensif. Kolaborasi diperlukan mengingat beberapa aspek dalam ilmu kelautan melibatkan instrumen-instrumen yang rumit yang membutuhkan akademisi dari bidang seperti teknik mesin, teknik elektro, dan informatika. Pemateri juga berpesan kepada generasi muda untuk tetap semangat dalam mencari ilmu sehingga dapat menjadi manusia berguna yang cukup berwawasan dalam menggali potensi laut dan menjaga lingkungan laut.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *