Survey Post-Tsunami Selat Sunda di Lampung

Published by Teknik Kelautan on

[KL ITERA/2019] Setelah terjadinya tsunami yang melanda Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Tanggamus pada tanggal 22 Desember 2018, tim peneliti dan dosen Teknik Kelautan ITERA melakukan survey terhadap tsunami yang terjadi. Salah satunya adalah mempelajari bagaimana gelombang tsunami tersebut dapat terjadi di lokasi tersebut dan memperkirakan berapa tinggi gelombang tsunami yang terjadi. Pada tanggal 12-13 Januari 2019, tim dosen dan peneliti Teknik Kelautan ITERA bekerja sama dengan tim peneliti dari Waseda University (Jepang) telah melakukan post-tsunami survey di daerah Teluk Kiluan, Pulau Legundi dan Kalianda.

Tim ITERA dan Waseda University bertemu tanggal 12 Januari 2019 di Bandara Radin Inten II untuk berdiskusi mengenai jadwal dan itinerary dari survey yang akan dilakukan, dan langsung berangkat menuju Teluk Kiluan pukul 09.00 dan sampai di lokasi pada pukul 15.00. Dikarenakan waktu sudah sore, kami langsung menuju ke Desa Bandung Jaya yang merupakan lokasi terparah di Teluk Kiluan akibat bencana tsunami. Survey terdiri dari dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan melakukan pengukuran prediksi tinggi gelombang tsunami dan pendekatan kualitatif dilakukan dengan bertanya langsung ke warga sekitar sesuai dengan kuisioner yang telah dibuat. Kedua pendekatan ini dilakukan secara bersamaan karena waktu yang singkat, dan oleh karena itu kami terbagi 2 tim yaitu tim pengukuran dan tim kuisioner.

Tim juga mengunjungi Pulau Legundi (Kabupaten Pesawaran) yang terletak di perairan antara Gunung Krakatau dan Dataran Sumatera pada keesokan harinya. Untuk mencapai pulau ini, diperlukan naik kapal nelayan sekitar 2 jam untuk sekali perjalanan dari Teluk Kiluan. Titik yang didatangi adalah Dusun Selesung sebagai daerah terparah terdampak tsunami pada akhir desember tahun lalu. Disini tercatat satu orang korban meninggal, bangunan yang terletak dipinggir pantai roboh, perahu nelayan banyak yang rusak hingga terbawa ke daratan, dsb.

Pengukuran tinggi gelombang tsunami menghasilkan 2 jenis tinggi yaitu tinggi run-up dan tinggi inundation. Tinggi run-up adalah adalah tinggi gelombang tsunami ketika energi mekanik berubah menjadi energi potensial atau saat gelombang berhenti. Sedangkan tinggi inundation adalah tinggi saat gelombang masih memiliki kecepatan.

Hasil survey di ketiga tempat di Lampung adalah sebagai berikut:

  1. Teluk Kulian, Tanggamus, Lampung
    • Desa Kiluan Negeri, H Inundation = +/-  2 m
    • Desa Bandung Jaya, H inundation = +/- 1.6 m
  2. Pulau Legundi, Pesawaran, Lampung
    • H inundation = +/- 3 m
  3. Kalianda, Lampung Selatan, Lampung
    • Desa Way Muli, H innundation = +/- 4 m
    • Desa Kunjir, H inundation = +/- 5 m
    • Kahai Hotel, H inundation = +/- 7 m

Pada pengukuran tinggi gelombang tsunami yang dilakukan di Kalianda, terdapat kesulitan yaitu mencari water mark atau batas air di rumah warga yang masih berdiri. Dikarenakan waktu antara tsunami dan survey sudah relatif lama, maka kami tidak dapat menemukan batas air yang meyakinkan, dan juga karena dari kesaksian warga melihat bahwa gelombang tsunami menghantam sangat cepat dan langsung kembali ke laut. Selain itu, semua tinggi gelombang yang tercatat oleh tim di Lampung merupakan inundation, hal ini juga merupakan akibat kesulitan menemukan batas yang meyakinkan untuk run up gelombang tsunami. 

Untuk pendekatan kualitatif dengan cara kuisioner, dapat diambil kesimpulan bahwa pertama, tidak adanya warning system untuk terjadinya tsunami dan juga tidak ada prediksi dari badan pemerintahan, sehingga warga dalam keadaan tidak siap. Namun, hal ini juga dikarenakan tsunami biasanya diawali dengan gempa tetapi tsunami kali ini tidak, tsunami dipacu oleh erupsi gunung Krakatau seperti yang diberitakan di televisi. Kedua, warga tidak pernah mengikuti simulasi mengenai evakuasi tsunami atau pengetahuan tentang apa saja yang harus dilakukan ketika ada peringatan tsunami. Namun, ada beberapa warga yang mengetahui tentang tsunami dari berita-berita setelah tsunami Palu.

Kedepannya, agar lebih siap menghadapi bencana yang kapanpun dapat terjadi, ada baiknya dilakukan simulasi evakuasi secara rutin tiap tahunnya agar warga sekitar dapat tanggap terhadap bencana yang mungkin datang. (erk/2019)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *