Tsunami Dalam Perspektif Teknik Kelautan (1)

Published by Teknik Kelautan on

1. Pendahuluan

Gambar 1. Peta kerusakan akibat kejadian Tsunami Selat Sunda (TSS) (BNPB, 2018)

Akhir-akhir ini fenomena tsunami menjadi topik yang hangat diperbincangkan di negeri kita.  Hal ini tak lepas dari rentetan kejadian yang menimpa beberapa daerah di Indonesia. Berikut daftar tersebut dalam pembagian wilayah Indonesia, mulai dari Lombok (tengah) lihat http://bit.ly/gempalombok18, Palu (timur) lihat http://bit.ly/gempapalu18, dan paling aktual adalah Selat Sunda (barat) lihat http://bit.ly/gempaselatsunda18. Tsunami Selat Sunda (TSS) menjadi sangat relevan bagi civitas akademika ITERA/warga Lampung karena sebagian wilayah yang ditimpa juga berada di Lampung Selatan, yakni Kalianda.

Tulisan ini merupakan penjelasan ringkas/overview mengenai Tsunami dalam perspektif Teknik Kelautan sebagai kontribusi akademis Prodi Teknik Kelautan ITERA. Hal ini diharapkan bisa membuka wawasan dan cakrawala berpikir dalam melihat fenomena alam yang menarik ini.

Tsunami secara etimologis berasal dari Bahasa Jepang yang berarti Tsu (pelabuhan) dan Nami (gelombang). Artinya gelombang besar yang biasa disaksikan di pelabuhan (PS: pelabuhan menggambarkan area pantai dimana manusia hidup). Kata ini tidak bisa kita lepaskan dari perspektif budaya masyarakat Jepang (negara kepulauan) yang banyak menggantungkan hidupnya pada lautan. Walaupun gelombang di kolam pelabuhan nanti ada subbahasan tersendiri dalam keilmuan Teknik Kelautan yang terus mengalami perkembangan.

2. Aspek Kinematis

Secara teknis, ada beberapa jenis gelombang laut berdasarkan spektral energi, periode, dan skema pembangkitannya. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada gambar dibawah ini.

Gambar 2. Spektral energi berbagai jenis gelombang di laut (Reeve, 2004) 

Tipikal gelombang tsunami adalah periode 5 menit hingga hitungan jam, biasa disebut gelombang panjang (long waves). Sebagai perbandingan, gelombang yang biasa kita lihat saat berkunjung ke pantai merupakan windwaves, gelombang akibat angin, dengan periode pendek yaitu dibawah 30 detik.

Terkait gelombang panjang itu, secara sederhana kecepatan gelombang tsunami bisa diformulasikan melalui,

Maka, jika kita asumsikan kedalaman rerata selat sunda 80 m saja, maka kecepatan progresif gelombang tsunami adalah 28 m/s atau 100 km/jam atau setara dengan mobil berkecepatan tinggi di jalan tol. Sekali lagi kita berasumsi, jika pusat kejadian memang benar di Anak Krakatau (longsor material gunung), maka jarak dari gunung tersebut ke Tanjung Lesung dan Carita 50 km, Pesisir Kabupaten Sumur 60 km, dan Kalianda 37 km. Dengan mengabaikan efek non-linear gelombang pada daerah pantai, maka TSS hanya butuh waktu 30 menit ke Tanjung Lesung dan Carita, 36 menit ke Pesisir Sumur, dan 22 menit ke Kalianda.

3. Metode Pembangkitan

Gelombang tsunami bisa dibangkitkan melalui kejadian seismik (dinamika kebumian), misalnya: gempa tektonik, gempa vulkanik, longsor bawah laut, dsb. Sebagian besar tsunami (atau setidaknya yang teridentifikasi oleh keilmuan manusia) disebabkan oleh kejadian tektonik (pergeseran lempeng bumi). Akan tetapi, TSS yang terjadi di Selat Sunda yang lalu jelas bukan oleh sebab umum tersebut. Dalam TSS, tidak ada gempa pendahulu sebelum tsunami dan air laut tidak surut jauh seperti halnya tsunami akibat kejadian tektonik. Oleh sebab apa? Ini menjadi objek kajian yang masih terus dipastikan hingga saat ini.

Dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan mencapai pantai seperti hitungan sebelumnya  yang relatif singkat ditambah tanpa adanya gejala umum yang mendahului tsunami, maka jelas korban tidak punya waktu yang cukup untuk menyadari dan menyelamatkan diri dari tsunami. Disini pentingnya kajian tsunami lebih jauh di Selat Sunda (TSS) untuk kepentingan mitigasi bencana. (gelf/2019)

 

Referensi:

  1. Bardett, J. P., et al. (2003). Landslide Tsunami: Recent Findings and Research Directions. Pure and Applied Geophysics. 160, 1793-1809.
  2. Dean, R. G & Dalrymple, R. A. Water Wave Mechanics for Engineers and Scientist. 1991. Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.
  3. Goda, Y. Random Seas and Design of Maritime Structures. 2000. Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.
  4. Holthuijsen, L. H. Waves in Oceanic and Coastal Waters. 2007. New York: Cambridge University Press.
  5. Le Mehaute, B. An Introduction to Hydrodynamics and Water Waves. 1976. New York: Springer-Verlag.
  6. Reeve, D., et al. Coastal Engineering: Processes, Theory, and Design Engineering. 2004. Oxon: Spoon Press.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *