Kuliah Umum Teknik Kelautan: “Post Tsunami Survey in Palu”

Published by Teknik Kelautan on

Lampung Selatan – KL ITERA 2018. Kuliah Umum sesi 2 dibawakan oleh Dr. Eng. Hendra Achiari (selaku Kaprodi KL ITERA). Pak Hendra (Panggilan, red) membawakan materi Post Tsunami Survey in Palu, Sulawesi. Materi ini tentu saja terasa lebih dekat bagi mahasiswa Teknik Kelautan karena terjadi di wilayah Indonesia dan baru beberapa bulan lalu.

Memulai kuliah, Pak Hendra menjelaskan definisi tsunami dan berbagai mekanisme yang menyebabkan terjadinya tsunami. Tsunami berasal dari Bahasa jepang yaitu Tsu (pelabuhan) dan Nami (gelombang), secara harfiah berarti ombak besar yang terjadi di pelabuhan. Secara umum tsunami terjadi akibat pergeseran lempeng bumi atau ledakan gunung api.

Pak Hendra memang sudah biasa melakukan survey pasca tsunami. Ada 2 hal utama parameter kelautan yang dilihat dengan metode pengukuran geodetik, yaitu inundation height (tinggi gelombang tsunami di darat) dan run-up height (tinggi gelombang tsunami saat energinya menjadi tiada). Sebelum menceritakan Palu, Pak Hendra sedikit menyinggung survey tsunami di Mentawai tahun 2010 yang kebetulan beliau lakukan bersama Sensei Suzuki. Saat itu, cerita beliau, tsunami tergolong gelombang panjang dan tinggi mencapai 15 m. Penyebab tsunami adalah pergeseran vertikal lempeng bumi.

Adapun tsunami Palu, berdasarkan hasil survey Pak Hendra dan tim (ada perwakilan Jepang, Chile, Jerman, dsb), tinggi tsunami di Kota Palu hanya sekitar 6 m dan di tempat lain lebih rendah. Adapun mekanisme penyebabnya gempa darat akibat pergeseran lempeng horizontal. Disini menariknya, biasanya mekanisme horizontal ini tidak menyebabkan tsunami namun sebaliknya terjadi di Palu.

Ada beberapa kemungkinan gelombang membesar ketika sampai di Kota Palu. Jika kita melihat lokasi Kota Palu, maka jelas terlihat bahwa kota ini terlatak di ujung dari sebuah teluk yang cukup panjang, lebih dari 40 km. Saat frekuensi natural tsunami dan teluk bersamaan, maka akan memicu terjadi amplifikasi dan tinggi gelombang menjadi berkali llipat dari tinggi semula. Hal ini yang kemudian kita kenal dengan resonansi. Walaupun hipotesis ini masih harus dikaji lebih jauh. Pertanyaannya kemudian, Bandar Lampung juga terletak diujung teluk persis seperti Palu, bagaimana kerentanan kota ini terhadap tsunami?

Mahasiswa Teknik Kelautan 2018 yang mengikuti kuliah umum ini sangat antusias, selain banyak pengetahuan/istilah baru tentang Teknik Kelautan, mereka juga menyadari bahwa bidang ini ternyata sangat dekat dengan kehhidupan mereka. (gelf/2018)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *